Paku Bumi

Opini: Adinda D. F. (IX F) 


Hy teman-teman! Apakah kalian pernah merenung tentang isi dunia atau alam ini? Pasti muncul banyak pertanyaan di dalam benak pikiran kalian, sama halnya mengenai gunung.

Apabila aku melihat pegunungan yang jauh dari luar jendela kelas, aku terbayang, betapa indah gunung itu! Hanya saja, halusinasiku mengenai gunung yang tampak indah nan asri itu pudar setelah ada salah seorang guru pengajar di kelas berkata, “Lihatlah gunung di sebelah sana! Terlihat indah bukan? Tetapi sebenarnya ketika kita mendekat untuk melihat dari jarak dekat gunung tersebut tak benar-benar seindah yang kita bayangkan. Ada bagian sisi gunung yang sudah rusak karena di sana banyak penebangan pohon dan pembakaran hutan-hutan untuk pembangunan. Menggantikan pohon-pohon berakar kuat dengan pohon perindustrian. Apa itu pohon perindustrian? Yaitu pohon yang ditanam dengan tujuan agar mendapat bahan-bahan industri,” ujar beliau. Maka dari itu sekarang terjadi banyak bencana tanah longsor akibat struktur lahan tanah yang rapuh di lereng gunung, salah satu penyebab utamanya, tentu karena akar-akar pohon kuat penopang tanah telah musnah.

Bukan hanya itu saja, teman-temanku yang rumahnya di area dekat pegunungan pernah berkata, “Tanah-tanah di sana berjalan,” Hah? Berjalan? Ya, ketika hujan, tanah yang bercampur air itu mengalir ke bawah. Tidakkah kalian bayangkan?

Aku juga pernah datang ke salah satu lereng gunung yang ditempati banyak warga. Terdapat lahan tanah kosong, ada juga yang asri dan ada juga beberapa tempat yang panas karena tidak ada pohon. Padahal aku mengira suhu di sana bakal dingin karena banyak pohon perindang jalan dan pemberi oksigen segar.

Sekarang apabila dilihat secara seksama, walau dari jarak pandang yang cukup jauh di gunung tersebut terdapat cekungan-cekungan karena beberapa kawasan lahan gundul tanpa pohon. Pohon besar sudah banyak ditebangi bahkan udara menjadi agak kotor, terjadi pencemaran udara di setiap harinya mulai dari asap pabrik, kendaraan bermotor, pembangunan, pembakaran, sampai komponen terkecil; asap rokok, bercampur semua dalam oksigen di seluruh dunia. Manusia hanya bisa diam dan tidak membuat udara lingkungan menjadi keruh saat malam hari tiba.

Kondisi istirahat malam seperti itu, terhitung hanya terjadi di beberapa negara tertentu saja. Jelas kalau di negara dengan kepadatan penduduk di atas rata-rata, hampir mustahil masyarakatnya beristirahat. Aktivitas mungkin dapat berjalan sampai 24 jam tanpa henti.

Beruntung ya sobat At Tastqif, bumi kita ini punya fisik yang kuat, tangguh, walau pada beberapa waktu pernah sakit juga. Tetapi sampai saat ini patut disyukuri karena bumi masih bisa mempertahankan bentuk dan kondisi optimalnya sebagai rumah manusia dan mahluk hidup lain. Tidak terbelah menjadi dua apalagi hancur.

Kalian tahu tidak kalau gunung itu disebut sebagai Paku Bumi? Bayangkan kalau gunung-gunung yang ada di bumi diambil dan ditambang terus menerus tanahnya untuk dijadikan bahan indutri yang diperjualbelikan. Ya memang tidak mengapa jika mengambilnya secara normal-normal saja, sesuai porsi. Tetapi bila kegiatan pengeksploitasian seperti demikian berlebihan tanpa memedulikan akibat yang ditimbulkan, tanah serta lahan-lahan di gunung bisa habis.

Area pegunungan akan semakin habis dan menyempit, bisa jadi yang terburuk bakal hilang rata dengan dataran. Meski memang kebanyakan tanah yang diambil dan ditambang adalah gunung mati. Tetapi cobalah bayangkan lagi, sobat, kalau paku-paku bumi perlahan hilang maka keseimbangan bumi akan terguncang. Seperti halnya rumah tanpa pondasi-pondasi yang kuat ketika membangunnya pasti rumah itu akan cepat roboh.

Oleh karena itu, kita harus selalu ingat untuk menyayangi dan menjaga bumi kita ya! Supaya selalu sehat dan memberi kesehatan ke semua mahluk. Sekian dari saya, terima kasih.


*Tulisan diterbitkan dalam Buletin At Tatsqif Edisi Hari Kemerdekaan RI 2022 (15 Agustus - 15 September 2022).