Pentingnya Ilmu yang Diimbangi Adab

Esai : Riha Isnayna dan Zuyyina N.W. (IX F)



Assalamualaikum, hai para sobat At Tastqif! Siapa nih yang sampai sekarang masih belum tahu apa itu adab? Nah, jadi begini, sobat, adab itu merupakan sikap sopan santun, budi pekerti baik yang harus senantiasa kita aplikasikan dalam aktivitas (perbuatan) atau ucapan kita sehari-hari.

Kalian pasti sudah sering mendengar bukan, pepatah bijak dari Arab mengenai adab, “Al adabu fauqal ilmi” yang artinya adab itu lebih baik ketimbang ilmu. Apakah kalian sudah menerapkan, mengaplikasikannya selama ini? Baik itu di pondok, di rumah, maupun di madrasah? Apakah kalian juga sudah mengetahui luar dalam maksud dari pepatah tersebut?

Jujur saja ya sobat, kalau dilihat-lihat, saat ini kok rasanya adab mulai dilalaikan oleh banyak orang? Mulai dari anak kecil, remaja, bahkan orang-orang dewasa. Padahal, nilai adab itu lebih baik dibanding ilmu. Hal ini menurut kami, salah satu penyebabnya karena dampak negatif pesatnya kemajuan teknologi.

Berdasar pengalaman kami selama bersekolah di madrasah ini, sering kali ada beberapa santri atau murid yang sekarang kurang begitu tadhim kepada para guru. Melihat hal seperti itu jujur saja kami merasa prihatin. Kami membatin, tidakkah mereka takut bila ilmu yang selama ini didapatkan tak bermanfaat nantinya?

Sobat, sebagai para calon generasi gemilang yang akan datang, kita sebagai siswa-siswi madrasah seharusnya mulai membenahi adab masing-masing. Baik itu budi pekerti kepada orang tua kita di rumah, guru-guru, teman, bahkan masyarakat awam yang kita temui di lingkungan sekitar. Sungguh, orang yang pintar tetapi tidak punya adab itu sama saja ibaratnya seperti buah yang berbau harum tetapi hambar rasanya ketika dimakan.

Selama ini, pernahkah kalian mendengar kata-kata, jika kalian sering berkumpul dengan tukang pembersih sampah tentu kalian memiliki bau yang tidak sedap sama dengannya. Namun kalau kalian dekat dengan penjual minyak wangi maka kalian akan tertular bau wanginya? Begitu pula dengan kita semua, manusia, jika sering berkumpul dengan insan yang berbudi pekerti baik insya Allah akan tertular kebaikannya, sedangkan kalau suka berkumpul dengan orang-orang jahat, kemungkinan akan tertular kejahatannya.

Dalam surah Al Israa, ayat 23 dan 24 yakni:

۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ۞ وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا ۞

Kita harus selalu berbuat baik dan bersikap sopan kepada kedua orang tua. Apa gunanya ketika nanti kita dewasa menjadi orang yang pintar dan sukses tetapi kita malah tidak mempunyai adab baik terhadap kedua orang tua.

Semoga melalui tulisan ini bisa sama-sama membuat kita merefleksikan diri kembali ya, sobat? Ilmu memang perlu diimbangi dengan adab, tidak lupa agar selalu bersikap tadhim kepada orang-orang yang memang sudah sepatutnya kita hormati. Sekian dari kami, Wassalam.


*Tulisan diterbitkan dalam Buletin At Tatsqif Edisi Maulid Barokah (16 September - 15 Oktober 2022).