Ujian Sumatif Tengah Semester Berbasis Online di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah

Setelah melakukan simulasi pada dua hari sebelumnya. Membuat evaluasi performa. Melalui pertimbangan yang mantap, Madrasah Tsanawiyah Salafiyah, Kajen, Margoyoso, Pati pada (15/9) akhirnya memutuskan untuk melaksanakan Ujian Sumatif Tengah Semester (STS) menggunakan perangkat digital berjaringan online.

Hal yang benar-benar baru ini diharapkan dapat menjadi contoh penting proses perkembangan infrastruktur di bidang pendidikan oleh madrasah. Bapak Kepala Madrasah, Kiai Ahmad Ruman Masyfu’ S.H., M.Si., dalam sambutannya ketika breafing pengawas menyampaikan pemakluman bahwa semua hal baru pasti berbentuk proses. Butuh waktu untuk menyempurnakan.

“Kita awali semoga menjadi baik dan perlu masih saling banyak saran. Kita bulatkan niat agar STS secara digital di MTs. Salafiyah lancar tanpa kendala meski nantinya, pasti akan banyak ditiru sekolah lain,” ujar Beliau menjelaskan.

Bapak Kepala Madrasah juga menghimbau agar pengawas senantiasa bersikap bijak menghadapi pertanyaan dan permasalahan yang dialami para murid selama proses STS berlangsung. Semisal ada sesuatu yang tidak diketahui tentang teknis atau kendala pelaksanaan jangan dulu bilang tidak tahu dan lebih baik diam. Selain itu walaupun murid memakai gawai, guru diharapkan tidak terlalu sering memainkan gawai di dalam kelas, cukup kiranya dipakai dalam kondisi darurat saja.

“Semoga tidak ada banyak kendala (trouble). Kita juga sudah usaha, Allah yang meridhai. Penilaian adalah hasil pencapaian anak tetapi pencapaian itu adalah hasil kejujuran,” kata Bapak Kepala menambahkan.

Beliau juga menyampaikan sebuah premis, tidak ada asas keadilan dan kepastian kalau seorang murid mengatakan baik belajar maupun tidak belajar hasilnya sama saja. Sumatif sendiri, bermakna tes penilaian akademik yang berlaku sementara waktu. Bernilai tapi bukan sebuah nilai akhir yang sifatnya absolut.

Gathan Dava Ardyansyah, Syifa Diah Qotrunnada, dan Nawang Sari yang merupakan peserta STS menyatakan setelah berlangsungnya STS pada hari pertama, kendala terbesar adalah kelancaran jaringan (sinyal). Mereka berharap seterusnya performa sambungan wi-fi dapat lebih diperbaiki lagi. Keterbiasaan untuk sistem ujian yang baru semacam ini juga membuat mereka kurang begitu maksimal mengerjakan karena masih sedikit bingung.

Kini STS telah berlangsung selama tiga kali pelaksanaan. Terhitung sampai (18/9) memang ada beberapa kendala yang masih terjadi. Tetapi patut diakui bahwa kian waktu, Ujian STS dilaksanakan dengan lebih rapi dan mengalami perbaikan yang cukup signifikan dari segi infrastruktur dan juga sistem teknis.


(Red./MTs./SLF)

Foto: Royy