Menulis Dini bak Menanam di Pagi Hari

Tulisan merupakan media komunikasi nonverbal yang fleksibel. Lewat menulis orang tak akan lupa akan kejadian-kejadian yang telah dialaminya. Kita semakin mahir menulis, semakin pula meningkatkan pemahaman kebahasaan kita. Menulis dini ibarat menanam di pagi hari. Kebiasaan menulis mendorong siswa-siswi lebih kreatif menyikapi hal-hal yang dianggap baik dan unik sebagai bahan tulisan.

Ahad (15/03) empat siswi MTs. Salafiyah, Kajen, mengikuti lomba menulis cerpen tingkat Karesidenan Pati. Pagi itu, keempat siswi yang masing-masing duduk di kelas VIII dan IX mengaku gugup saat mencoba menuangkan ide dan kreativitas mereka dalam membuat sebuah cerpen. Hal ini dikarenakan mereka belum pernah mengikuti kompetisi menulis cerpen, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.

“Eh, malah langsung ke tingkat karesidenan. Atmosfernya  lain daripada ketika saya menulis sendiri di lorong-lorong Ponpes,” ucap salah satu peserta MTs. Salafiyah. Beliau yang acap dipanggil Nazil itu mengaku tak sia-sia mengikuti lomba yang dilaksanakan di SMK Tunas Harapan Pati. Dia tetap bahagia meskipun tak bisa sholawatan seperti saat hari libur di pondok pesantren.

IMG_1050

Masing-masing dari siswi itu ialah Hasna Qodrun Nadaa, Nazilatul Muthoharoh, Attala Nurul Izzati, dan Sa’adahtud Daroyni. Judul-judul yang diusung mereka pun masih dalam lingkup Kearifan Lokal Budaya Lokal. Cerpen hasil buatan mereka tersebut bervariatif, antara lain Aurora Jingga di Selat Kajen, Joglo Pati, Misteri Tembang Lingsir Wengi, dan Kunang-kunang.

Tepat pukul 09.00 WIB perlombaan dimulai. Masing-masing dari peserta difasilitasi komputer untuk mengetik selama 90 menit. Selama alokasi waktu tersebut peserta diharuskan menuangkan segala ide untuk menciptakan sebuat karya yang menarik dan berdasarkan fenomena kearifan di masyarakat. Acara ditutup dengan pembagian doorprize oleh salah satu sponsor kegiatan. Akhir perjumpaan 54 peserta lomba yang tersebar dari berbagai penjuru berpose bersama dalam rangka mengenang momen-momen indah itu.

“Kami berempat merasa berdebar-debar menunggu hasil pengumuman besok pukul 12.00 WIB. Kami sudah berusaha memberikan yang terbaik, soal hasilnya adalah nomor dua. Namun, kami akan terus mengembangkan kemampuan menulis kami, supaya kelak apa yang kami lakukan ini dapat menghasilkan manfaat fiddinii waddunyaa wal akhiroh”, ucap mereka setelah acara pose bersama.


(Rohim/MTs./SLF)

Diunggah: 03/15/2015