Telisik Sejarah Mbah Ahmad Mutamakkin, At-tatsqif Kunjungi Museum Kajen

Sempat gerimis beberapa jam sebelumnya, suasana mendung menyertai langkah kaki teman-teman At-tatsqif menuju Masjid Jami’ Desa Kajen, Margoyoso, Pati pada Selasa, (24/1) sore. Disambut suara azan asar yang merdu dari muazin, beberapa anak dari rombongan At-tatsqif mencari tempat beristirahat di serambi masjid. Sementara sebagian yang lain bergegas ke tempat wudu, persiapan melaksanakan salat asar berjamaah.

Agenda kunjungan ke Museum Kajen oleh teman-teman At-tatsqif dimulai setelah salat asar berjamaah. Bersama dengan pihak ICK (Islamic Centre Kajen) dan Pengelola Museum yang sebelumnya telah memberi pengarahan, rombongan At-tatsqif diajak mengelilingi kompleks Masjid Jami’ Kajen. Menuju ke lantai dua, tepatnya di atas area wudu bagian utara Masjid Jami’ Kajen.

“Ada banyak sekali saksi bisu tentang sejarah Desa Kajen di sini. Teman-teman bisa lihat sekaligus pelajari,” ujar Moh. Zuli Rizal yang merupakan Kepala Pengelola Museum Kajen.

Infografis besar yang menempel di tembok sisi bagian barat ruangan, memperlihatkan ilustrasi kisah perjalanan Mbah Ahmad Mutamakkin hingga sampai ke Desa Kajen dan bertemu Mbah Syamsuddin. Kemudian, tepat di sampingnya terdapat sebuah etalase di pojok barat ruangan, memamerkan sebuah maket yang memperlihatkan bangunam Masjid Jami’ Kajen ketika pertama kali didirikan. Zuli menjelaskan, bangunan utama masjid yang sekarang ini ada, tidak banyak berubah, hanya bagian serambi saja yang dipugar. Bahkan sumur yang dahulu di sebelah selatan masjid pun masih ada dan dipertahankan.

Bentuk asli mustaka Masjid Jami’ Kajen yang kedua, tempat mencuci kaki, dan tatakan sentir juga dipamerkan di sebuah etalase, tepat di samping etalase maket. Tak ketinggalan, sederet manuskrip kuno berupa kitab-kitab lawas yang menceritakan kisah Mbah Ahmad Mutamakkin ditempel pada dinding bagian utara. Sementara pada dinding bagian selatan diperlihatkan sederet foto para masyayikh Kajen dari masa ke masa dan ornamen-ornamen Masjid Jami’ Kajen yang tidak dipamerkan di Museum.

“Belajar di Kajen berarti ya harus tahu sejarah Desa Kajen dan Mbah Ahmad Mutamakkin. Sebagai santri, melalui sejarah tersebut, terutama kisah-kisah Mbah Ahmad Mutamakkin sudah sepatutnya teman-teman At-tatsqif meneladani sikap terpuji sekaligus semangat Beliau selama hidup di Kajen. Semoga pada hari ini, kita semua dapat barokah dan seterusnya diberi kemudahan ketika tholabul ilmi,” kata Moh. Zuli Rizal memungkasi kalimat pengantarnya sebelum memasuki Museum Kajen.


(Red./MTs./SLF)